Makanan Kecoa yang Sering Tidak Disadari Ada di Rumah

Temukan makanan kecoa yang sering tidak disadari ada di rumah, mulai dari remah, minyak, makanan hewan hingga kardus, serta cara mencegahnya.

Rumah yang terlihat bersih belum tentu benar-benar bebas dari sumber makanan kecoa. Serangga ini mampu menemukan makanan dalam jumlah sangat kecil, termasuk remah yang terselip di bawah peralatan dapur, cipratan minyak, hingga sisa makanan hewan peliharaan.

Kecoa masih dapat muncul meskipun penghuni rumah membersihkan meja makan dan lantai setiap hari. Hal ini terjadi karena kecoa merupakan pemakan umum atau generalist omnivore. Kecoa mampu memanfaatkan berbagai bahan organik serta menyesuaikan pola makannya dengan sumber yang tersedia di lingkungan.

Daftar Isi:

Mengapa Kecoa Bisa Bertahan di Dalam Rumah?

Kecoa memanfaatkan berbagai jenis makanan, bukan hanya makanan yang biasa dikonsumsi manusia. Penelitian terhadap kecoa jerman atau Blattella germanica menunjukkan bahwa hama ini dapat memilih makanan dengan kandungan protein dan karbohidrat yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Preferensi tersebut juga dapat berbeda tergantung kondisi lingkungan, tahap perkembangan, jenis kelamin, dan ketersediaan makanan.

Inilah yang membuat kecoa mampu bertahan di dapur, kamar mandi, gudang, ruang penyimpanan, hingga area di belakang peralatan elektronik.

Makanan Kecoa Yang Sering Ada di Rumah

1. Remah Makanan yang Terselip

Aktivitas makan sering meninggalkan remah roti, biskuit, nasi, mi, dan makanan ringan di bagian rumah yang sulit dijangkau. Periksa beberapa area berikut:

  • Bawah lemari dapur
  • Celah meja makan
  • Bawah kompor dan kulkas
  • Sudut rak penyimpanan
  • Sela-sela sofa

Walaupun ukurannya sangat kecil, remah tersebut tetap dapat menjadi sumber makanan bagi kecoa. Penelitian mengenai preferensi makanan kecoa jerman memperlihatkan bahwa makanan kaya karbohidrat, seperti roti, biskuit, pisang, dan kentang, dapat menarik perhatian kecoa.

2. Minyak dan Lemak di Area Dapur

Cipratan minyak pada dinding, kompor, kabinet, alat masak, dan bagian bawah penyedot asap sering tidak terlihat. Lapisan tipis tersebut dapat bercampur dengan debu dan sisa makanan sehingga menyediakan sumber nutrisi bagi kecoa.

Membersihkan permukaan meja saja belum cukup. Bersihkan area di samping dan belakang kompor secara berkala menggunakan cairan pembersih yang mampu mengangkat lemak.

3. Makanan Hewan Peliharaan

Kecoa juga memanfaatkan makanan kucing, anjing, burung, dan ikan sebagai sumber makanannya. Kandungan protein, karbohidrat, dan lemak di dalamnya membuat makanan hewan menjadi sumber nutrisi yang potensial.

Hindari membiarkan makanan hewan terbuka sepanjang malam. Simpan persediaannya dalam wadah tertutup rapat serta bersihkan butiran yang tercecer di sekitar tempat makan.

4. Sampah Organik

Kulit buah, sisa sayuran, ampas minuman, tulang, dan kemasan makanan yang masih kotor dapat mengundang kecoa. Sampah yang menumpuk semalaman memberi kesempatan kepada kecoa untuk keluar dari tempat persembunyian dan mencari makan.

Gunakan tempat sampah bertutup, pasang kantong sampah dengan benar, dan buang sampah organik secara rutin. Cuci bagian dalam dan dasar tempat sampah secara rutin karena cairan sampah dapat meninggalkan residu dan aroma.

5. Kardus, Kertas, Lem, dan Sabun

Pada kondisi tertentu, kecoa urban dapat memanfaatkan bahan yang mungkin tidak dianggap sebagai makanan, seperti sabun, lem, dan beberapa material lain yang ditemukan di lingkungan buatan manusia. Bahan berbasis selulosa juga dapat digunakan sebagai sumber makanan cadangan ketika makanan yang lebih sesuai tidak tersedia.

Tumpukan kardus juga menyediakan banyak celah gelap yang dapat menjadi tempat berlindung. Karena itu, hindari menyimpan kardus bekas terlalu lama, terutama di dapur, gudang, atau area yang lembap.

6. Kotoran dan Bangkai Serangga

Kecoa dapat memakan kotoran kecoa lain, bagian tubuh serangga, kulit bekas pergantian tubuh, dan bahan organik yang telah membusuk. Perilaku memakan kotoran atau koprofagi bahkan dapat membantu kecoa muda memperoleh mikroorganisme serta nutrisi yang mendukung perkembangannya.

Itulah sebabnya membersihkan kecoa yang mati dan kotorannya tetap penting. Jangan hanya menyemprot kecoa lalu membiarkan bangkainya berada di bawah lemari atau peralatan dapur.

Cara Mengurangi Sumber Makanan Kecoa

Pengendalian kecoa sebaiknya dimulai dengan menghilangkan sumber makanan dan tempat berlindungnya. Bersihkan remah hingga ke area tersembunyi, angkat lapisan minyak, simpan bahan makanan dalam wadah tertutup, dan jangan membiarkan piring kotor semalaman.

Selain makanan, perhatikan juga sumber air seperti keran bocor, genangan di bawah wastafel, spons basah, dan saluran pembuangan. Kombinasi makanan, air, tempat gelap, dan suhu yang sesuai dapat membuat kecoa terus bertahan di dalam rumah.

Masih Bingung Menemukan Penyebab Kecoa?

Kecoa tetap muncul meskipun rumah sudah dibersihkan? Bisa jadi masih ada sumber makanan, jalur masuk, atau tempat persembunyian yang belum ditemukan.

Download Pest Doctor AI dan ceritakan masalah kecoa yang kamu alami melalui fitur konsultasi chat. Kamu bisa mendapatkan informasi dan saran pengendalian hama yang sesuai dengan kondisi di rumah secara lebih cepat dan praktis. Pest Doctor AI tersedia di Google Play dan Appstore.

Author & Editor: Lina Intania

Daftar Pustaka

Bell, W. J., Roth, L. M., & Nalepa, C. A. (2007). Cockroaches: Ecology, Behavior, and Natural History. Baltimore: The Johns Hopkins University Press.

El-Sharabasy, H. M., Mahmoud, M. F., El-Bahrawy, A. F., El-Badry, Y. S., & El-Kady, G. A. (2014). Food preference of the German cockroach, Blattella germanica (L.) (Dictyoptera: Blattellidae). Cercetări Agronomice în Moldova, 47(2), 81–88.

Jones, S. A., & Raubenheimer, D. (2001). Nutritional regulation in nymphs of the German cockroach, Blattella germanica. Journal of Insect Physiology, 47(10), 1169–1180.

McPherson, S., Wada-Katsumata, A., Hatano, E., Silverman, J., & Schal, C. (2021). Comparison of diet preferences of laboratory-reared and apartment-collected German cockroaches. Journal of Economic Entomology, 114(5), 2189–2197.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *